Hukumlah aku dengan cara yang paling kau suka
Perihal diriku merupa sumber segala duka
Dengan jiwa fana ini, buatmu keadaan menjadi ketiadaan
Mengkekalkanku sebagai kesalahan untuk semua kata maaf yang telah engkau hilangkan....
Sabtu, 15 Oktober 2016
Egomania
Senin, 03 Oktober 2016
Jangan
Jangan pernah untuk lupa
Bahwa kita hanyalah bagian dari luka
Dari api yang tak bisa menunduk
Untuk raga yang tak sudi pula terpeluk
Selasa, 27 September 2016
Reaksi insomni
Acap kali mengakhiri malam ini, bait rangkai puisi selalu menghampiri
Bagaimana tidak bila riak katanya tak mampu aku tolak
Begitu banyak umpama terhadirkan sebagai pengganti namamu yang selalu mengharu birukan
sepoynya angin melantukan suara berbisik hembus bahwa dirimu telah bersua
Terdengarnya ia pada ikatan yang rapuh
Ataukah pelaminan sebagai tempatmu berlabuh
Turut senyum diriku menyimak
Walau remuk redam dada mulai bergejolak
Ketika lalu bersama kini yang menjadi pilu serta bahagia untuk engkau dan dia
Dialog teolog
Aku telah mengucap pisah pada detikmu, namun hingga hari ini kau masih saja terketik
Mengapa Tuhan masih mengombangkan aku dalam ingatan, sementara rindunya berpulang untuk dia yang telah bersamanya
Tak berani aku menggugat sang Maha Cinta apalagi menghujatNya
Tentang kasih yang pernahku jalani sudah pasti Engkau yang membelakangi
Bertahan pada sesuatu yang bertahun
Ingin lepas namun selalu kandas
Ibarat senja yang berujung kelam
Dan hadirmu membuatnya semakin suram
Di separuh malam sembari mata terpejam dengan terduduk diantara dua sujud tak henti doa terpanjat menaruh harap tuk terwujud
Berbisik pelan
"Ya Tuhan, sekiranya ini adalah kasih Mu yang tak ku pahami hamba rela teradili dan menaruh pasti yang lebih baik akan menghampiri"
BINGKAI statis
Diambang keputus asaan kita masih saja mengais harapan dengan wujudnya tersamar oleh keadaan
Entah apa yang merasukiku cukup dengan berbaring agar semuanya tak kaku diiringi mata sayup Inilah hampa yang nyata dalam hidup
Senin, 26 September 2016
Re-inkarnasi memori
Teruntuk kau yang pernah menorehkan kisah dengan menjadikan wajah terbasuh airmata
Serupa tinta hitam ku tulisi titik pertanda akhir puisi, namun untuk keberkian kalinya belum mampu ia bertutur sekian
Detak itu tak terukur oleh waktu, perihal dirimu beresonansi tanpa tanya, koma ataupun spasi
Selasa, 06 September 2016
Kita pernah tertawa
Ku jamah kembali tempat usang di ujung kali...
Tempat dimana tawa lebih seru dibanding melihat dua kubuh tiada hentinya berseteru
Tak lagi sama...
Kalimat canda yang biasa aku dengar berdengung ditelingaku perlahan mulai tersamar
Yah.. sepi dalam ruang kosong berdebu itu seolah aku tersenyum pada seonggok batu
Ini mungkin perihal rindu untuk pecahnya suram malam yang tak tentang nyanyian merdu
Mengingatkan aku tentang rumah tempat dimana kita bersua dan berbagi cerita...
Jumat, 02 September 2016
Kita yang lain
Kita menjadi ranting pada lembah yang tak pernah terjamah
Menjadikanmu hanya sebatas impian dimenara logikaku yang terus menaruh wujud serupa keinginan
Sebagai bentuk yang tidak berbentuk hadirmu menentang apa yang selama ini mereka anggap semu
Walau belum mampu aku beri bukti
Namun inilah yang aku hadapi
Yah, kita bukan aku dengan cerita yang lain, tetapi aku dan kerelaanku
Selasa, 30 Agustus 2016
Kopi dan diksi
Aku hanyalah penyair yang melarutkan kopi dalam seduhan didihnya air membiarkannya berbuih panas
terhirup udara beraroma khas
Untuk pahit sebenarnya, tanpa di sertai pemanis dalam larutannya
Sabtu, 27 Agustus 2016
Tak lebih tak kurang, biasa
Tak ada lagi yang perlu di ingat
luka yang dulunya menyayat, telah hilang dan tak pulang...
Ketika pikirku menyangka hadirmu masih sumber segala duka
Sedang mata menatap wajah
tak lagi memerah perihal kau yang pernah memukau
Tanpa memalingkan sedikitpun pandangan
Ingin rasanya aku kembali mempertemukan mata yang telah berbeda arah sembari untuk senyum terkulum di bibir manismu
Dengan bersikap jemawa aku balutkan dengan tawa berharap kau tahu menjadikan hari itu biasa tanpa apa apa
Jumat, 26 Agustus 2016
Faktualisasi
Mengapa kau hadir jika hanya meneteskan bulir?
Mengapa kau mengucap cinta bila akhirnya tak ada lagi kita?
Apakah kau bangga menjadikan aku sebagai ahli sejarah ?
Menceritakan kisah kisah patah dalam infinitum yang aku balut senyum dan yang mendengarnya kau bagai fiksi pada lantunan diksi dengan dirimu berperan antagonis bermulut manis
Benakku
Kita lbaratkan kata yang hilang karena huruf namamu memilih bungkam, bahkan menyebutkannya kendati satu bait , jariku enggan menuliskan. Walau berupa mimpi, alam ego yang hanya aku mampu menjamahnya merasa hina untuk menghadirkan .terlepas lamunan disiang hari sembari cerita terseduh tersaji memenjarakan rasa dengan tiang tiang ilusi yang dirimu sebagai korban tak perlu menanggu beban....
Rabu, 24 Agustus 2016
Sadar terjaga
Dan tak sadar aku terjaga pada bias-bias cahaya jingga mengalun dan melantunkan suara-suara kesunyian sebagai irama untuk mengingat kembali di saat nama saling menyahut pertama kali
Terlupa Senja
Aku perlahan lupa cerita senja di ujung tinta. Yang senantiasa mengabarkan kisah selama raga terpisah. Adakah ia masih disana menunggu kita sekali lagi bercerita ? Ataukah sekedar mengingat tentang dirimu pernah terpahat, dan senyum menjadi ukiran pertama yang aku buat.
Terpaku
Kisah yang manis dan lembut
akan berakhir ketika pandang terhalang kabut....
Halusinasi tentang masa depan tertoreh di bibir tak nampak oleh mata tapi bayang yang mencibir
Tak usahlah isak tangis menjadi saksi sebab rintihan akan terus mengiris
Dan kita hanyalah bagian kecil bagi luasnya semesta untuk para pecinta
Jumat, 19 Agustus 2016
Kita
Kita, hanya berjarak kata yang enggan tuk menyapa
Terlewati oleh bingkai wajah yang kadang saling mengamati
Terlepas dari senyum tak bergerak atau terperangkap, sebab ego menahan bebas
Jumat, 12 Agustus 2016
Batas tak berbatas
Karena suatu yang mati bukannya tidak ada
hanya berhenti pada cerita yang ada
Namun hidup diantara kenangan yang tiada hentinya untuk sebuah perulangan
Selasa, 09 Agustus 2016
Rela
Jikalau it nyata yang harus aku terima, akhirnya bukan namamu tuk aku bersama, Biarlah !!!
Sebab setelah ini, tersisa patahan yang tak dapat aku bantah
Jika
Perihal puisi, senandung majas terangkai diksi
Bila itu gitar, dawainyapun melantun pada getar
Tapi untuk cinta, maaf aku tak punya cerita.....
Senin, 08 Agustus 2016
Anti klimaks
Kini aku paham tentang senja
bukan tempat menyimpan kesedihan namun mengucap ikhlas pada perpisahan
Untuk semua senyum yang menjadi pedih tak berbunyi bersiaplah, sambut datangnya sunyi dihari yang biasa sebagaimana aku bernyanyi....
Selasa, 26 Juli 2016
Kenang
Hingga malam ini terlampau jutaan tawa dan air mata berlalu pergi datang tak tertentang
Masih mencoba memahami arti sepi yang menyempatkan hadir sebagai kawan yang tak dianggap saat terjaga sampai terlelap
Hampa bukanlah suatu kesengajaan, tapi takdir yang membuat merekabak hinaan
Walau kedaan telah sampir setidaknya ragam cerita pernah mampir
Senin, 11 Juli 2016
Sabtu, 09 Juli 2016
Baris berakhir tanya
Aku mengisahkannya berulangkali
Dibaris bait yang enggan bertanya
Mengulang terus terulang untuk perulangan yang tak henti diulang
Di balik tumpukan ingatan senyum itu telah berserakan
Sulit.... ungkapan pahit, saat aku menyusunnya bak ribuan pecahan teka teki menahan air mata dan rasa masih tak bertepi
Berapa embun, berapa malam dan berapa jingga telah lalu ?
Bagiku kau satu yang tak terhingga
Selasa, 28 Juni 2016
Tanya kabar
Jari....
Apa kabar puisi?
Adakah letihmu hari ini ?
Melantunkan dongeng yang sama
Selalu tentang bias bias satu nama
Entahlah....
Jawabannya tak di temukan atau memang tak ada.....
Pada hujan kali ini rintiknya adalah serpihan seolah menyapa terasa sentuhan......
Menyentuh jauh di letak yang tak ingin lagi coba aku ingat...
Bagaimana aku bisa lupa ?
Jika kau hadir pada sahabat mulutnya begitu menyengat...
Masih terbayang kala itu
Kita begitu asing di sebuah pesta namun waktu membawanya menjadi cinta lalu waktu pula membawanya menjadi asing dan pada cerita kini tinggal tinta....
Kamis, 23 Juni 2016
Tak pernah habis
Belum cukup ukiran pena tentang kepergian....
Sebab, rela masih mencoba pada kehilangan....
Ikhlas adalah melihat engkau bahagia,
Walau bukan aku tetapi dia...
Oh waktu, bukannya ingin suatu pengulangan, tapi oh Tuhan bangunkanlah hamba menerima kenyataan....
Kini, aku tlah bangun pada realita...
Namun, alam ingat tetap pada satu cerita....
Tiap hrup nafas adalah rentan penuh beban
Tiap hembusnya adalah rasa yang sepadan
Karena Sang Pencinta lagi Maha Cinta
Memberi risalah sudah pasti tak pernah salah...
Tak pernah habis
Belum cukup ukiran pena tentang kepergian....
Sebab, rela masih mencoba pada kehilangan....
Ikhlas adalah melihat engkau bahagia,
Walau bukan aku tetapi dia...
Oh waktu, bukannya ingin suatu pengulangan, tapi oh Tuhan bangunkanlah hamba menerima kenyataan....
Kini, aku tlah bangun pada realita...
Namun, alam ingat tetap pada satu cerita....
Tiap hrup nafas adalah rentan penuh beban
Tiap hembusnya adalah rasa yang sepadan
Karena Sang Pencinta lagi Maha Cinta
Memberi risalah sudah pasti tak pernah salah...
Rabu, 22 Juni 2016
Sejarah
Pada sejarah yang ku tulis dengan amarah....
Dengan besarnya rasa yang akhirnya menguap tanpa sisa...
Menjadikan ingatan setajam belati dan menikam dalam jauh pada lubuk hati...
Telah berakhir semua ikatan tepat pada hari kata dan pelukan berpindah seolah tak terjadi apa apa.
Kini, pada semua puisi ibarat mengabadikan kisah dengan diksi yang indah namun jiwa begitu gundah..
Inilah.. cerita tak mengenal sudah
Hampa
Sepeninggalmu tak ada lagi yang tersisa, sebab jarak langkahmu meninggalkan adalah api yang membakar kenangan menjadi abu sebelum sempat semuanya berdebu
Senin, 20 Juni 2016
Aku
Kenali aku..
Pada jemari yang mengetik kata tanpa harus bertatap mata.....
Bukan pada mereka yang meraba dengan nada sumbang .....
Apalagi teruntuk bahasa "pernah" mengisi wadah telingamu....
Kalau belum cukup, biarkan raga bertemu melepaskanmu dari suara semu...
Jika aku berarti demikian, maka kau tak lebih dari mereka dan kalian...
Genggaman tiada
Tak ada yang menjaga
selain mata yang terjaga
Entah pada gelap ke berapa
akuu bisa lupa
Entah pada kata mana
dirimu terlewatkan oleh pena
Engkau telah tiada
namun ketiadaanmu menjadikannya selalu ada
Engkau telah lalu
namun ribuan memoar memukul bak palu
Tapi, padanya aku berterima kasih pada rasa yang tak terganti masa
Dan mengerti bahwa cinta mengenggam bukan pada tangan, tetapi kenangan...
Jumat, 17 Juni 2016
Setahun berlalu
Untukmu yang telah jauh dari tatapan
Terima kasih pada ingatan yang telah tinggal pada setahun terakhir ini dan terus menjanggal.....
Dan pada ketiadaan kaulah teman lama pada ruang ruang kepergian setelah semuanya tak lagi sama.....
Memang tak di pungkiri bahwa aku telah sendiri bukan untuk menunggu kedatangan, namun mencoba rela pada kehilangan
Kamis, 12 Mei 2016
Semu
Secuil cerita dan senyuman yang akhirnya berlalu....
Tahta yang guyar tuk padam dari sederet kisah kelam.....
Dalam bui kerinduan ku menjamah kata menutup mata...
Aku.... memanggil memori melalui jemari.. tergenggam ponsel menunggu balas harap cemas
Seketika hadir bayang akan senyum memekarkan bunga yang hanya sekuntum..
terjadi perbincangan singkat melalui pesan singkat...
Kau dan Aku mengulang perstiwa tanpa harus memutar waktu, dimana kita satu, dalam cinta yang hanya ikatan semu.
Hinaan Malam
Apa yang membuatku terjaga ?
Sinar indah dan kerlap kerlip bintang redup selalu menggiring keletihan
Tak cukupkah ? Ataukah mungkin esensi kopi yang tak larut meninggalkan endapan pahit kian rasa lelah terjahit
Mungkin saja secangkir kopi sudah terseduh hanyalah teman di kala alam memori telah gaduh
Mengapa ?...... Gelap ada untuk aku berselimut bukan untuk terpaku dan larut
Sehina itukah malam sampai mampu menggoyahkan rasa kantuk yang datang tanpa perlu mengetuk
Jika itu adalah dirimu, sampai kapan itu tentang dirimu ?
Maaf.. dan seribu kali maaf telah meluap tak habis terucap
Karena kau hadir jauh sebelum aku sadar
Bahwa malam hanyalah hinaan bagi hancurnya sebuah hubungan
Jumat, 15 April 2016
Nakku tassilolongang
Aku tak selalu punya cerita untuk di tulis
Tapi cerita tentang kamu tak pernah habis.. entah harus aku sebut luka ataukah bahagia yang tak nyata
Menutup mata pada saat ini
Memainkan ingatan tanpa nurani
Seakan semua hanyalah ilusi
Tersudut realita di memori...
Tahun pertama tlah berlalu sejak pasang laut menjadi surut...
Aku hanyalah angin yang tak mampu menggulingkan ombak...
Tak mampu mengangkat layar ketika kapal mencari sandar....
Jika sekedar menyejukkan harimu aku mampu, namun lebih dari sejuk tuk kau aku peluk.
Seperti yang tlah tertulis di awal, tak ada akhir karena sejatinya akan selalu berawal..
Tuhan, aku bertekuk dengan hati membusuk sebagai hamba dan Engkau Maha penyatu dan pemisah segala sesuatu, maka aku mohon insan yg tlah terpisah agar sekiranya tak meninggalkan sisa entah itu sebagai kenangan atau sepintas bayangan...
Rabu, 23 Maret 2016
Manusia hujan
Sebutir demi sebutir air yang jatuh memercik ditiap rintiknya....
Menyentuh aku di balik bayangan awan..
Enggan aku berlari tuk berteduh hanya berjalan seolah saat semua biasa saja...
Tak. Lagi aku mendengar apapun selain hempasan hempasan air di tanah ...
Menggenang dan menutupi semua lubangnya....
Ku hentikan langkah...
Sembari berbisik......
Mengapa langit harus menghempaskan hujan ?
Apakah amarah harus terselesaikan dengan tangan ?
Dan hujan selalu rela terhempaskan.....
Begitu pula tangan selalu ringan terayunkan......
Apakah.....
Mengapa....
Terlarut luka lama masih mampu mengayunkan semua seringan mungkin....
Senin, 29 Februari 2016
Alunan Timbal Balik
Kita berjalan dan akhirnya terluka.....
Kita terluka dan akhirnya berjalan.....
Kita mendiamkan namun penuh duka....
Kita penuh duka namun mendiamkan...
Lelah tanpa spasi....
Spasi yang panjang pun melelahkan..
Dengan sebab dengan pasti...
Walau mungkin walau harap...
Tak ada yang tak berarti.....
Sabtu, 06 Februari 2016
Waktu
Jika waktu tak pernah kembali
Biarkan aku bersama dengan jemari ini
Melukis kembali waktu yang tlah terlewati
Hela nafas tak berbatas malam
Menggiring ingatan dalam buaian suara
Tetap berpijar tetap berdengung menguak kisah....
Tak romantis terlebih lagi dramatis hanya tawa dan tawa kalian berteriak dalam benak
tak berbentuk untuk tersentuh namun hadir walau tanpa sepatah kata sebagai pembuka.
Membunuh waktu kenang kisah
Terhanyut dalam suasana
Minggu, 24 Januari 2016
Inceity
Sejenak ku rebahkan badan malam ini
Mendengar gemuruh ombak menari
Tertiup angin memainkan ingatan
dalam selimut kesunyian...
Dingin menyentuh gelap malam
tak berbintang rintik air dalam kelam
Tak terdengar apa apa selain rasa
Ibarat terjaga dalam sandaran resah
Di saat subuh menanti fajar
kelopak kelopak mata membesar
Apakah terjaga menyambut mentari
Atokah terlelap melewati dini hari
Tak ingin aku menerka
Tapi ku terbaring di samping mereka
Feels like forever
But the truth is i hope tommorow is over