Aku hanyalah penyair yang melarutkan kopi dalam seduhan didihnya air membiarkannya berbuih panas
terhirup udara beraroma khas
Untuk pahit sebenarnya, tanpa di sertai pemanis dalam larutannya
Selasa, 30 Agustus 2016
Kopi dan diksi
Sabtu, 27 Agustus 2016
Tak lebih tak kurang, biasa
Tak ada lagi yang perlu di ingat
luka yang dulunya menyayat, telah hilang dan tak pulang...
Ketika pikirku menyangka hadirmu masih sumber segala duka
Sedang mata menatap wajah
tak lagi memerah perihal kau yang pernah memukau
Tanpa memalingkan sedikitpun pandangan
Ingin rasanya aku kembali mempertemukan mata yang telah berbeda arah sembari untuk senyum terkulum di bibir manismu
Dengan bersikap jemawa aku balutkan dengan tawa berharap kau tahu menjadikan hari itu biasa tanpa apa apa
Jumat, 26 Agustus 2016
Faktualisasi
Mengapa kau hadir jika hanya meneteskan bulir?
Mengapa kau mengucap cinta bila akhirnya tak ada lagi kita?
Apakah kau bangga menjadikan aku sebagai ahli sejarah ?
Menceritakan kisah kisah patah dalam infinitum yang aku balut senyum dan yang mendengarnya kau bagai fiksi pada lantunan diksi dengan dirimu berperan antagonis bermulut manis
Benakku
Kita lbaratkan kata yang hilang karena huruf namamu memilih bungkam, bahkan menyebutkannya kendati satu bait , jariku enggan menuliskan. Walau berupa mimpi, alam ego yang hanya aku mampu menjamahnya merasa hina untuk menghadirkan .terlepas lamunan disiang hari sembari cerita terseduh tersaji memenjarakan rasa dengan tiang tiang ilusi yang dirimu sebagai korban tak perlu menanggu beban....
Rabu, 24 Agustus 2016
Sadar terjaga
Dan tak sadar aku terjaga pada bias-bias cahaya jingga mengalun dan melantunkan suara-suara kesunyian sebagai irama untuk mengingat kembali di saat nama saling menyahut pertama kali
Terlupa Senja
Aku perlahan lupa cerita senja di ujung tinta. Yang senantiasa mengabarkan kisah selama raga terpisah. Adakah ia masih disana menunggu kita sekali lagi bercerita ? Ataukah sekedar mengingat tentang dirimu pernah terpahat, dan senyum menjadi ukiran pertama yang aku buat.
Terpaku
Kisah yang manis dan lembut
akan berakhir ketika pandang terhalang kabut....
Halusinasi tentang masa depan tertoreh di bibir tak nampak oleh mata tapi bayang yang mencibir
Tak usahlah isak tangis menjadi saksi sebab rintihan akan terus mengiris
Dan kita hanyalah bagian kecil bagi luasnya semesta untuk para pecinta
Jumat, 19 Agustus 2016
Kita
Kita, hanya berjarak kata yang enggan tuk menyapa
Terlewati oleh bingkai wajah yang kadang saling mengamati
Terlepas dari senyum tak bergerak atau terperangkap, sebab ego menahan bebas
Jumat, 12 Agustus 2016
Batas tak berbatas
Karena suatu yang mati bukannya tidak ada
hanya berhenti pada cerita yang ada
Namun hidup diantara kenangan yang tiada hentinya untuk sebuah perulangan
Selasa, 09 Agustus 2016
Rela
Jikalau it nyata yang harus aku terima, akhirnya bukan namamu tuk aku bersama, Biarlah !!!
Sebab setelah ini, tersisa patahan yang tak dapat aku bantah
Jika
Perihal puisi, senandung majas terangkai diksi
Bila itu gitar, dawainyapun melantun pada getar
Tapi untuk cinta, maaf aku tak punya cerita.....
Senin, 08 Agustus 2016
Anti klimaks
Kini aku paham tentang senja
bukan tempat menyimpan kesedihan namun mengucap ikhlas pada perpisahan
Untuk semua senyum yang menjadi pedih tak berbunyi bersiaplah, sambut datangnya sunyi dihari yang biasa sebagaimana aku bernyanyi....