Acap kali mengakhiri malam ini, bait rangkai puisi selalu menghampiri
Bagaimana tidak bila riak katanya tak mampu aku tolak
Begitu banyak umpama terhadirkan sebagai pengganti namamu yang selalu mengharu birukan
sepoynya angin melantukan suara berbisik hembus bahwa dirimu telah bersua
Terdengarnya ia pada ikatan yang rapuh
Ataukah pelaminan sebagai tempatmu berlabuh
Turut senyum diriku menyimak
Walau remuk redam dada mulai bergejolak
Ketika lalu bersama kini yang menjadi pilu serta bahagia untuk engkau dan dia
Selasa, 27 September 2016
Reaksi insomni
Dialog teolog
Aku telah mengucap pisah pada detikmu, namun hingga hari ini kau masih saja terketik
Mengapa Tuhan masih mengombangkan aku dalam ingatan, sementara rindunya berpulang untuk dia yang telah bersamanya
Tak berani aku menggugat sang Maha Cinta apalagi menghujatNya
Tentang kasih yang pernahku jalani sudah pasti Engkau yang membelakangi
Bertahan pada sesuatu yang bertahun
Ingin lepas namun selalu kandas
Ibarat senja yang berujung kelam
Dan hadirmu membuatnya semakin suram
Di separuh malam sembari mata terpejam dengan terduduk diantara dua sujud tak henti doa terpanjat menaruh harap tuk terwujud
Berbisik pelan
"Ya Tuhan, sekiranya ini adalah kasih Mu yang tak ku pahami hamba rela teradili dan menaruh pasti yang lebih baik akan menghampiri"
BINGKAI statis
Diambang keputus asaan kita masih saja mengais harapan dengan wujudnya tersamar oleh keadaan
Entah apa yang merasukiku cukup dengan berbaring agar semuanya tak kaku diiringi mata sayup Inilah hampa yang nyata dalam hidup
Senin, 26 September 2016
Re-inkarnasi memori
Teruntuk kau yang pernah menorehkan kisah dengan menjadikan wajah terbasuh airmata
Serupa tinta hitam ku tulisi titik pertanda akhir puisi, namun untuk keberkian kalinya belum mampu ia bertutur sekian
Detak itu tak terukur oleh waktu, perihal dirimu beresonansi tanpa tanya, koma ataupun spasi
Selasa, 06 September 2016
Kita pernah tertawa
Ku jamah kembali tempat usang di ujung kali...
Tempat dimana tawa lebih seru dibanding melihat dua kubuh tiada hentinya berseteru
Tak lagi sama...
Kalimat canda yang biasa aku dengar berdengung ditelingaku perlahan mulai tersamar
Yah.. sepi dalam ruang kosong berdebu itu seolah aku tersenyum pada seonggok batu
Ini mungkin perihal rindu untuk pecahnya suram malam yang tak tentang nyanyian merdu
Mengingatkan aku tentang rumah tempat dimana kita bersua dan berbagi cerita...
Jumat, 02 September 2016
Kita yang lain
Kita menjadi ranting pada lembah yang tak pernah terjamah
Menjadikanmu hanya sebatas impian dimenara logikaku yang terus menaruh wujud serupa keinginan
Sebagai bentuk yang tidak berbentuk hadirmu menentang apa yang selama ini mereka anggap semu
Walau belum mampu aku beri bukti
Namun inilah yang aku hadapi
Yah, kita bukan aku dengan cerita yang lain, tetapi aku dan kerelaanku