Senin, 29 Januari 2018

KOKAM (Kopi Kampili)

"Secangkir Kopi Inspirasi Tanpa Tepi"
Bagaimana bisa kita menghindar dari aroma kopi yang diaduk secara melingkar? Apalagi jika kalian berada di Kabupaten Gowa tepatnya di Kecamatan Pallangga Desa Kampili Dusun Pa'rappunganta. Lokasi yang kental dengan budaya pedesaan, dengan orang orang ramah membuat kita senantiasa merasa dirumah. Warkop Dg Boco penduduk sekitar menamakannya, menyajikan kopi dengan aroma yang khas tempat terbaik memenjarakan diri setelah seharian berutinitas.

Saya tidak menyangka di Desa tempat dekat dua akses Bendungan (Kampili dan Bissua) tersembunyi cita rasa kopi yang begitu menggugah para penikmatnya.
Sayapun merasa bersyukur melaksanakan kewajiban akademis kampus dalam hal ini KKP (Kuliah Kerja Profesi bukan Poto poto) di Desa Kampili dan diperkenankan mencicipi rasa kopi yang menagih lagi dan lagi.

Walau demikian, ada sedikit penyesalan yang saya rasakan selama berada di Desa Kampili. Mengapa selama dua bulan ini hanya disaat akhir menjelang waktu selesainya KKP baru saya menikmati kopinya ? Ah sudahlah tidak guna meratapi selagi masih bisa menikmati dan mungkin suatu hari nanti saya kembali lagi untuk mencicipi secangkir kopi tanpa tetapi

Rabu, 03 Januari 2018

Bawakaraeng Longweekend with Friend

Aku masih ingat lelah kala itu
Di sepertiga jalan menuju ketinggian
Merebah penat dan mengumpulkan semangat
Sambil bercerita mereka yang pertama tiba
Hingga kisah kisah lain dikeseharian.
Kami masih tak habis pikir
Sebesar apa tekad yang mendekatkan kami dipuncak tertinggi Kabupaten Gowa. Tepatnya Puncak Gunung Bawakaraeng, Desa Lembanna, Malino, Kab. Gowa Prov. Sulawesi Selatan.
Dengan jarak ketinggian dari pos nol menuju pos 10 (puncak) Bawakaraeng 2830mdpl. Di Pos 7, Kami merapatkan setengah badan diatas batu membiarkan waktu berlalu mengisi tenaga dan dahaga.
Hari itu kami melaju pukul 10 pagi dari pos 5 setelah melewati malam didalam tenda sesuai perencanaan di awal keberangkatan dan tiba di puncak pukul 17.30 saat senja hadir dengan sengaja menyapa para pemujanya. Kedatangan kami disambut bias bias cahaya petang yang lembut, tak sabar rasanya mengabadikan kehadirannya jika terlewatkan maka harus menunggu dilain kesempatan.
Sampai saat kehilangannya kami tersenyum, karena seluruh waktu kehadirannya tidak terlewatkan walau dengan keadaan menggigil memasang tenda akibat dingin ketinggian sebagai resiko bersama.
Gelap pun tiba, menghabiskan malam didalam tenda, hingga pagi tiba kembali mengabadikan warna fajar menyingsing
walau agak telat, setidaknya masih sempat. Lalu kembali mengemas barang bersiap menuju jalan pulang.

Hampir lupa sampah pendakian yang tak mampu membumi seperti kenangan yang terus mendiami baiknya dibakar saja agar lestari puncak tertinggi Kabupaten Gowa Sulawesi