Aku ingin bercerita tentang sepotong senja sore itu. Berwarna kemerahan bermakna lebaran pun sudahan. Ia sempat menyemat hadir menemani pergiku tuk pulang lalu pulangku menuju rumah. Pernah, sering, bahkan tak jarang sore merona mengiring mendamping perjalanan sederhana yang membuatku tak bergeming. Berharap ia bisa berlama-lama dari biasa. Menyelip semoga tentang suatu hari jingga menjadi tak terhingga. Aku terlalu mengandai, hingga tempat tuju tak kunjung sampai. Pelan demi perlahan petang menghilang berganti malam menjelang. Aku masih setengah jalan berselimut kegelapan. Berteman bintang dan lampu motor sedikit remang. Entah bagaimana mungkin, aku tersesat pada hadir senja sesaat. Aku tahu segala sesuatu yang begitu dinikmati akan terlalu cepat terlewati. Bukan hanya semesta, tapi manusia juga berotasi. Banyak hal berubah, bahkan yang tumbuh dulunya sempat patah oleh patuh menjadi acuh. Tuhan sudah terlalu banyak memberi, namun kita terkadang terlalu kurang mensyukuri. Seperti senja dan segala hal baik bahkan buruk, menandakan hari esok tak mungkin kalah asik di banding kemarin dan hari ini, masih banyak salah yang membendung. Selama dunia masih bersahaja, tetaplah mencoba baik-baik saja seperti pesona senja sederhana.
Jumat, 19 Juli 2019
Minggu, 30 Juni 2019
Selain Menyenangkan, Kau juga menenangkan
Kau adalah hal yang selalu aku ulas dalam tulis
Menjadikan sempurna semua hal-hal sederhana
Pagi itu kau lebih lama tersenyum, dibanding mentari yang masih memurungkan sinar di balik awan mendung.
Entah kapan bertatap muka di ponsel, menjadi sesuatu yang aku suka
Berlama-lama tanpa berbicara serius lalu sesekali saling mengucap nama
Mengatapkan hari yang terlanjur basah
Menghangatkan hawa dengan cara tertawa
Kau begitu bisa saat orang-orang hanya mampu berbasa-basi
Mengisi spasi mengubah tiada
berwujud sesuatu yang berbeda
Langganan:
Komentar (Atom)