Aku ingin bercerita tentang sepotong senja sore itu. Berwarna kemerahan bermakna lebaran pun sudahan. Ia sempat menyemat hadir menemani pergiku tuk pulang lalu pulangku menuju rumah. Pernah, sering, bahkan tak jarang sore merona mengiring mendamping perjalanan sederhana yang membuatku tak bergeming. Berharap ia bisa berlama-lama dari biasa. Menyelip semoga tentang suatu hari jingga menjadi tak terhingga. Aku terlalu mengandai, hingga tempat tuju tak kunjung sampai. Pelan demi perlahan petang menghilang berganti malam menjelang. Aku masih setengah jalan berselimut kegelapan. Berteman bintang dan lampu motor sedikit remang. Entah bagaimana mungkin, aku tersesat pada hadir senja sesaat. Aku tahu segala sesuatu yang begitu dinikmati akan terlalu cepat terlewati. Bukan hanya semesta, tapi manusia juga berotasi. Banyak hal berubah, bahkan yang tumbuh dulunya sempat patah oleh patuh menjadi acuh. Tuhan sudah terlalu banyak memberi, namun kita terkadang terlalu kurang mensyukuri. Seperti senja dan segala hal baik bahkan buruk, menandakan hari esok tak mungkin kalah asik di banding kemarin dan hari ini, masih banyak salah yang membendung. Selama dunia masih bersahaja, tetaplah mencoba baik-baik saja seperti pesona senja sederhana.