Teruntuk seluruh sayang dan rindu yang berlabuh entah kemana...
Ia tak pernah hilang, hanya tersesat diantara waktu yang terus bergerak dan jalan pulang yang tak lagi sama
hingga saat ini yang terlihat hanya ketakutan pada sesuatu yang terjadi atau yang akan berulang, terlebih dari itu menjaga apa yang kita takutkan tetap ada dibandingkan menghadapi ketakutan menjadi tiada adalah caraku hidup pada yang terkisahkan
Untukmu kisahku akan terpulangkan
Bab 1
Ketiadaanmu menjadi ada
16 tahun, waktu terbuang dalam kesendirian tanpa pernah mengerti tentang mengenal dan ditinggal adalah kesia siaan menjalani hidup. Aku (Raka) yang hanya mengenal dunia luar dari apa yang aku baca, Aku yang hanya bisa menatap senyum mereka yang sedang bercanda riang dengan sahabat sahabatnya, aku yang tidak pernah mengutamakan apapun selain aku dan keinginanku terjebak dalam zona yang mungkin mereka sebut individualis, egoisme etis, atau apalah sebutan kerennya. Membuat manusia tak sesuai sebagai apa yang aristoteles sebutkan "zoon politicon". waktu begitu kejam merenggut hampir seperempat abad usiaku hanya menceritakan tentang aku, aku dan aku yang entah siapa yang mengenalku dengan perawakan wajah yang selalu datar seperti seluruh waktu hanya terhabiskan untuk diriku sendiri, sangat tanpa beban, tanpa tanggung jawab, apalagi mempertanyakan sebab akibat, sehingga aku bisa senyaman ini menjadi aku. Hidup serasa hanya ada aku sebenarnya dengan tidak sadar hanya menghidupkanku dalam ketiadaan. Tetangga yang menganggapku hanya tetangga, teman sekolah yang hanya teman sekolah berkunjung sesekali menikmati dari apa yang aku punya, tak menggoyahkanku bahwa mereka bagian dari duniaku, tapi hanya menganggap sesuatu yang lewat dan singgah lalu melanjutkan kepergiannya. Selalu dan selalu begitulah waktu mempersingkat dan memperlambat dentangnya. Kilasan kilasan yang mementas dibenakku dipenghujung malam, menuturkan kelam warna gelap hitam ketika aku terdiam.
Di waktuku yang sekerang tepat ke 24 kali lahir ku menjadi hadir dimana seseorang sepertiku berjalan memperbaiki hari demi masa depan, berbeda denganku yang hanya menghabiskan waktu bergelut dengan masa lalu. Tentang aku yang jatuh tanpa tersentuh, runtuh hanya karena cacian yang bergemuruh. 4 tahun berlalu kakiku menjauh dari keegoisanku dan penyendiri yang aku lalui. Keadaan dunia kampus merubah apa yang tertutup dan terpendam menjadi terbuka, lalu menerima bahwa kesendirian tidak pernah menjadi pilihan untuk semua pertanyaan yang ingin diselesaikan. Hari ini aku kembali dikampung halaman, dimana aku tumbuh membuat kenangan dan apa yang tidak sengaja terlupakan. Tepatnya di Bantaeng suatu daerah yang ber Ibukotakan Makassar. Aroma oksigen pagi hari yang begitu khas. Tiap hirupnya menusuk dingin di wajahku. Dingin namun tak menggigil, menusuk namun tak menuai luka apalagi berdarah. Hanya sejuk dan keharuman mekar bunga ditaman ini begitu sunyi, begitu sepi. Meratapi kesendirianku dan taman ini sebagai temanku hanya mendialogkan kata demi kata dalam pikiran. Aku, semakin dalam di jurang ketiadaan bertemu dengan seorang lelaki yang lebih tua 2 tahun dariku menarikku dari jurang keegoisan itu. Dia adalah Rian seorang yang merupakan seniorku di masa sekolah, tukang bully dan humoris. "Hei !!!", teriaknya seolah mengenal wajah samar dimasa sekolah dulu. Seingatku Rian berperawakan putih dengan warna kulit agak pucat, bertubuh kekar namun berhati mawar. Sontak aku mencari arah dari teriakan itu, menjelajahi sekeliling sudut demi sudut pandangku berputar dan mataku jatuh pada seseorang yang tak cukup jauh tak pula cukup dekat hingga dari jarakku berdiri mampu melihat senyum dan tatapan mata dari masa lalu tentang aku yang dibully dan dia situkang bully. Mungkinkah Rian masih melakukan hal yang sama padaku? Hingga dia meneriakiku dari jarak yang mungkin sedikit sulit menerka wajah yang pernah teringat. Sedikit cemas rasanya seiring langkahnya semakin mendekat dengan wajah yang tetap tersenyum . Hingga jarak cukup dekat untuk saling berbicarapun, Rian menghentikan langkah.
"Wah kamu sudah berubah yah ?" Kata Rian dengan wajah yang tetap tersenyum
"Iya hehe" kataku dengan nada mencairkan suasana.
"Aku ngga nyangka kalau kamu bisa sekurus ini" kata Rian
"Waktu berubah kayaknya aku juga perlu menyesuaikan" kataku dengan pikiran mengingat masa lalu
"Tapi kamu tetap sama ya mudah mudahan yang kayak dulunya udah gak sama hehe" lanjutku dengan sedikit bercanda.
"Hahaha saat itukan masa peralihan jadi kalo soal itu gak lah sekarang, kan kamu bilang kita harus menyesuaikan dengan waktu yang terus berubah" kata Rian mengembalikan perkataanku
"Hahaha iya yah kamu mengembalkan kata kataku haha" ucapku sambil tertawa.
Perbincangan yang baik bermula dengan Rian setelah sekian lama apa yang telah lalu tak begitu baik. Sangat aneh bagiku, orang yang tidak begitu sering berkomunikasi dengan orang lain, terasa begitu akrab dengan seseorang yang bahkan aku anggap manusia hina dimasa lalu.
"Oh iya maaf, sepertinya perbincangan kita lanjut nanti, soalnya aku lagi ada urusan nih" kata Rian yang mengguyar lamunanku
"Iya bro gak apa apa kok" jawabku sambil tersenyum
Rianpun bergegas pergi berjalan menjauh dari jarak sedekat kami berbincang. Tak cukup jauh, langkahnya terhenti dan berbalik mengarahku.
"Oh iya aku hampir lupa, bentar malam kita nongkrong di Black Land yah buat lanjutin cerita yang gak selesai ini", teriak Rian.
"Oke bro nanti malam aku kesana" teriakku dengan jawaban yang lebih mengakrabkan diri.
Rian pun telah pergi. Aku kembali dalam riuhnya sunyi didalam alam pikirku. Meresah dan menerawang jauh yang telah lalu, menyimpul sedikit senyum, "dari ketiadaanku dimasa lalu menghadirkanku menjadi ada dimasa ini" ucapku dalam hati.
Ragu teguk masa lalu tersedak membatukkan lara endapmu yang dulu tak berbentuk tergiring waktu memberi wujud
Bab 2
hal baru dari masa lalu
Jam berdenting menunjukkan pukul 19.50 waktu setempat. Suasana awal malam yang sudah gelap dengan riuhnya tapak kaki berjalan dari arah mesjid dekat rumah, tampak orang orang yang pulang dari kewajiban mereka sebagai mahluk beragama menunaikan ibadahnya. Aku merasa melihat keheningan dalam ramainya langkah kaki itu. Mereka yang meneguhkan iman sesuai aturan keagaaman dan sebagian lain memilih melanjutkan aktifitasnya adalah sebuah pilihan dan bentuk toleran kita sesama manusia. Begitu pula dengan mereka yang berkeyakinan lain, aku rasa yang terpenting dari aturan dari masing masing agama itu adalah sikap kita pada sesama manusia. Walau dengan perbedaan keyakinan, kita masih manusia yang sama dengan cara yang sama kita dihadirkan. Malam ini aku bersiap menuju tempat yang telah tersepakati. Entah apa dipikirku. Rasa cemas dan gugup hadir diluar inginku. Bertemu dengan mereka aku kenal dimasa lalu, harusnya senang dalam inginku, apakah ini adalah bentuk ketakutan? Entahlah, mungkin ini hanya sikap berlebihan dari kebiasaanku dalam kesendirian. Dengan menghiraukannya aku bergegas berpakaian. Tidak terlalu rapi namun juga bukan urak urakan, hanya penampilan biasa seperti pada kebanyakan orang seusiaku. Berpamitan kepada orang dirumah, aku menuju blackland. Mengitari beberapa bagian dikota malam ini dengan sepeda motor, lumayan cukup indah. Suguhan lampu jalanan berbaris rapi ditepi trotoar bersinar terang namun tak menyilaukan terlewati satu demi satu aku lalui. Walau dengan suara kendaraan yang agak berisik, tidak mengurangi keindahan sederhana yang aku nikmati dan mengingatkan, inilah aku yang berjalan terus selama 16 tahun. Melewati barisan lampu lampu jalan sederhana nan menenangkan dan aku hanya hanyalah malam yang menghilang setelah datangnya mentari bercahaya terang.
Sekitar 10 menit aku berkendara diatas sepeda motor, akhirnya sampai ditempat aku dan rian akan bertemu. Menuruni kendaraanku lalu memarkirnya di bibir jalan, aku berjalan masuk ke tempat yang bernama blackland tersebut. Blackland adalah sebuah cafe sederhana dikota asalku, sudah ada sejak aku berseragam putih abu abu dan merupakan tempat para siswa seusiaku saat itu menghabiskan waktu untuk mengerjakan beberapa tugas dari sekolah atau hanya untuk berbincang lepas. Aku berjalan mengarah pintu cafe tersebut, setelah sampai di pintunya perasaan cemas dan gugupku semakin membesar. aku mencoba untuk tidak menghiraukannya, tapi langkahku masih sulit untuk melanjutkan."Ini hanya tentang bertemu dengan teman dimasa lalu, mengapa harus ragu?" Tanyaku dalam hati mencoba meyakinkan keraguanku. "Kau tahu kan? Dengan mereka akan ada banyak hal yang sulit diterka." Seolah sisi lain dari diriku menjawab pertanyaanku sendiri. Semakin lama aku dikuasai pada ketakutan yang aku buat sendiri hingga berpikir untuk pulang menjadikan opsi."tidak !!!"teriakku dalam hati."Jika aku harus menghindari sebelum memulai kapan aku belajar menghadapi ?". Tegasku dalam hati. Tak lagi berpikir panjang, aku membuka pintu cafe itu. Tampak tidak terlalu ramai mungkin ini baru awal malam hingga pengunjung yang datang masih terhitung jari. Aku menatap keseluruh sudut cafe itu. Mencari perawakan wajah yang aku kenal."Hei !!!" Terdengar suara yang lumayan besar menyita perhatian seluruh pengunjung cafe. Akupun menoleh pada asal teriakan yang bisa saja untukku. Setelah menemukan asal suara itu, ternyata benar apa yang aku dengar memang ditujukan padaku. Suara itu berasal dari seorang gadis, berambut panjang dengan mata bulat sempurna menyerupai bulan dikala purnama, serta bibir tipis yang menorehkan senyum untukku. Aku berkesimpulan bahwasanya gadis itu sudah pantas dikatakan cantik. Cantik, akupun masih sering bertanya tanya makna cantik itu sendiri. Ia yang memiliki bentuk wajah simetris dengan kesesuaian ukuran bagian wajah itu sendiri seperti ketepatan letak mata, mancung peseknya hidung, atau tebal tipisnya bibir, atau juga tembem tidaknya pipi. Atau bahkan sebuah cacat otot seperti lesung pipit adalah sebuah kecantikan. Aku rasa sisi objektif manusialah dalam penilaiannya yang universal. Dengan sedikit ragu, aku membalas senyum gadis itu. Dia pun beranjak dari tempatnya duduk, yang kelihatannya dalam lingkaran meja hanya dia yang duduk pada barisan itu. Berdiri lalu berjalan mengarah tepat di dekat pintu masuk cafe. Akupun masih tersenyum kepadanya merasa kaku sambil mencoba mengingat baris baris wajah yang aku kenali dari masa lalu. "Kamu dari mana aja ?" Sapaan gadis itu kepadaku. Sementara aku terdiam namun tetap tersenyum dengan pandangan kosong, masih mencoba mengenali sapaan akrab yamg memutar kenangan kenangan disemua masa yang telah aku lalui seperti menu "rewind" pada tombol pemutar kaset berputar cepat dalam piringan yang tentu saja pada bagiannya ada beberapa sudah terlupakan. "Kamu udah lupa yah ?" lanjut pertanyaan gadis itu. "Maaf sepertinya aku lupa hehe" jawabku yang tak mampu menemukan bagian dengannya dari mampuku mengingat. kebiasaanku yang sulit untuk mengenali wajah apalagi sangat jarang menghabiskan waktu untuk bercengkrama akhirnya lupa akan beberapa nama. "Ka, ini aku Ka. Erza". Kata gadis itu. "Er...za..?". Ucapku perlahan dengan ingatan terjatuh dititik terlewatkan pada suatu musim. Musim hujan kala itu. Tepat SMA Kelas12 tepat jam pulang sekolah. Suara rimbun kaki berlari memecah rintik air hujan yang tergenang membasahi mereka yang menerobosnya bergegas pulang. Aku berdiri teduh menatap hujan kala itu sendiri menikmati terdiam meresapi. "Raka !!!". Suara seseorang memanggilku. Aku pun berbalik menatap asal suara itu. "Erza, kamu rupanya aku kira siapa". Jawabku dari teriakannya. Erza adalah teman sekelasku, seorang gadis yang tomboy berperawakan cantik dari senyumnya yang tak pernah aku lewatkan. "Kok kamu belum pulang, Ka? Takut kehujanan yah ?". Tanya Erza sambil menunjukku dengan senyuman yang mengolok olokku. "Hehe ngga kok, hanya saja aku suka menikmati hujan di koridor ini." jawabku menundukkan kepala. Aku bisa saja menatap senyumannya hingga habis ia terukir, tapi aku lewatkan dengan ketidakpantasanku. "Jadi, kamu belum mau pulang?". Tanya Erza dengan seolah isyarat harapan sebaliknya tersirat dari yang ia tanyakan. Seolah aku tahu tiap tanya dari jawaban yang aku berikan padanya setelahnya. Menemaninya pulang atau menikmati hujan kala itu datang entah apa yang membuatnya kembali adalah dua keindahan sederhana menempatkanku pada memilih salah satunya. "Belum sih, aku masih ingin disini, bagaimana denganmu ?". Jawabku dengan spontan. "Mau gak aku temenin?". Kata Erza dengan matanya yang meyakinkan menatapku. Aku merasa terkejut dengan apa yang baru saja Erza ucapkan. Aku merasa senang dan penuh tanya diwaktu yang sama. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, bersamaku atau bersama hujan.
Siang itu lebih singkat dari biasanya,memenjarakan cerita dari tetes air yang mengalir, lebih hangat dari dingin hujan yang pernah aku ingat, namun dari apa yang aku lupa terasa sangat baru untuk sesuatu dari masa lalu.
Bab 3
Kenyataan yang terlewatkan
Malam ini waktu membuka jendelanya, mempersilahkan masa lalu mengintip dari celahku yang sudah buram. Kedatangan Erza dengan seluruh kisah dari masa lalu, seolah menjelaskan bagaimana takdir menempatkan kita pada satu garis yang bergerak tetap. Seperti detik jarum jam secara statis akan selalu ke kanan dan berdentang ketika bertemunya dua jarum tertentu. Pengunjung yang semakin ramai berdatangan tidak jadi pengganggu untuk perbincangan menembus kenangan.
"Erza maaf aku gak kenalin kamu, soalnya udah lama sih gak ketemunya hehe". Jawabku dengan tersenyum malu."Kamunya tuh yang ngilang entah kemana dan muncul kembali kayak hujan waktu itu." Jawab Erza dengan senyum yang aku rasa masih jelas sama dengan apa yang akhirnya aku ingat. "Haha kamu ternyata masih ingat tentang waktu itu". jawabku tertawa malu. Sangat jelas yang aku ingat adalah namanya bukan hujannya.Sebab hujan saat itu tanpa Erza, hanyalah hujan yang biasa aku nikmati dikala sendiri. Tertawa dan tersenyum disela sela kata yang aku dan Erza ucapkan, tidak terasa sudah sejam lebih waktu yang telah terlewatkan. Hingga aku sadar bahwa kedatanganku di Blackland bukan untuk bertemu Erza tapi berjumpa kembali dengan Rian. "Eh aku hampir lupa, Aku kesini untuk ketemu Rian, tapi udah sejam lebih dianya belum keliatan". Ucapku memotong kisah kisah lain dari kenangan untuk kembali diceritakan."Iya nih Rian kebiasaannya dari waktu sekolah gak pernah berubah". Jawab Erza dengan wajahnya yang sedikit kesal sambil menatap layar ponselnya seolah menunggu kabar dari seseorang. "Oh kamu kesini karena diajak Rian juga ?". Jawabku dengan menyembunyikan terkejut yang aku rasakan. "Iyalah katanya dia mau jemput Riri, tapi sampai sekarang dia belum ada kabar". jawab Erza dengan wajah yang semakin kesal. Melihat dan mendengar respon Erza, membuatku merasa ada sesuatu hal antara Erza dan Rian."Kok kamu cemas banget sih, Za ?". Tanyaku mencoba mencari tahu sesuatu. "Ini udah bukan pertama kalinya dia gitu, Ka dari awal aku "sama" dia emang suka bikin kesel kalau janjian". Jawab Erza dengan wajah yang mulai cemberut. Aku merespon satu kata dari ucapan Erza yang akhirnya menjawab apa yang coba aku cari tahu. "Sama ? Maksudnya ?". Tanyaku yang ingin sebuah penjelasan."Kamu gak tau atau pura pura gak tau sih ?". jawab Erza dengan kesal sambil menatap ponselnya.
"Emang Rian gak bilang ?". Lanjut tanya Erza dengan tatapannya menegaskan pertanyaannya."Rian cuman nyuruh aku kesini malam ini itu aja kok". Jawabku dengan santai."Wah parah tuh orang." Jawab Erza semakin kesal."Emangnya ada apa, Za?". tanyaku yang semakin merasa bingung dalam situasi yang tidak aku mengerti. Seolah percakapan ini berputar putar Erza hanya menjawab tanyaku dari apa yang dia rasa bukan dari apa yang aku tanyakan.Waktu menunjukkan pukul 21.35 suara suara bising oleh pengunjung kafe perlahan hening. Keramaian telah pergi menyisihkan bangku kosong disekeliling kami. Erza pun lelah menunggu Rian yang tak kunjung tiba gelas gelas minuman kosong diatas meja berderetan padahal hanya kami berdua. Telepon Erza berdering
"Kring.... kringg....". Erza pun mengangkat telponnya
"Halo ?". Kata Erza
"Rian kamu dimana aja sih ? Aku udah berjam jam disini nungguin kamu, aku capek, aku mau pulang !!!" Dengan nada marah Erza menutup teleponnya.
"Udah, Za Jangan emosi gitu mungkin Rian lagi ada urusannya yang mendadak." Kataku mencoba menenangkan.
"Ini bukan yang pertama kali dia gini, Ka". Dengan wajah yang mulai terlihat murung dan mata yang berkaca kaca.
Seingatku ini pertama kalinya aku melihat Erza murung atau mungkin yang aku ingat hanyalah senyumnya dan lupa dia juga bisa bersedih.
"Ya sudah kalau emang udah sering, kok kamu ngga bisa memaklumi ?". Tanyaku mencoba mengalihkan kecewa Erza.
"Rian nya aja yang gak pernah ngerti". Dengan nada yang semakin kecewa.
"Kok kamu ngebelain Rian sih, Ka? Harusnya kamu tuh marah juga karena bukan cuman aku yang dibuat nunggu, kamu juga !!!". Lanjutnya menyudutkanku dengan nada suaranya semakin tajam dan lantang memecah sepi yang perlahan aku nikmati.
"Bukan ngebelain kok, cuman menurut aku lebih baik telat daripada gak sempat".
Jawabku yang mencoba keluar dari tanya yang memojokkan, menegangkan.
Aku pun kadang sulit mengerti bagaimana perempuan berpikir jika tanya yang terjawab tak sesuai dengan apa yang mereka harap dianggap salah atau malah dikatakan membela. Yah begitulah perempuan, tiap permasalahan selalu ada yang benar dan ada yang salah, bisakah cukup berdamai saja ?
Sepi pun kembali mengiring bersama getar suara nyaring perlahan membening
Garis di dahinya menandakan kecewa teramat dalam hingga air mata memeras di wajahnya
"Tenangin dirimu, Za". Kataku sembari menyentuh pundaknya
"Kecewa bisa begitu dalam, tapi jangan sampai menjadi dendam lalu teramat dalam kau pendam." Lanjutku
Erza hanya terdiam mengurai air mata terisak atas apa yang telah kacau di dalam benaknya.
Jika ini kenyatan yang berkali kali sudah kau lewatkan, kapan kau terbiasa ?" Ucapku mencoba mengingatkannya.
"Entahlah, Ka". Dalam tangis Erza menggubris.
Aku mencoba berpikir mencari cara untuk menenangkan Erza. Mencoba memahami apa yang diinginkannya mencoba memaklumi apa yang ia rasakannya, hingga aku berpikir mungkin dalam situasi terburuk atau yang paling suntuk lebih mudah membaca cuaca yang berubah ubah, ketimbang mengambil langkah tepat menghadapi perempuan yang sedang menikmati resahnya.
Entah siapa yang melewatkan kenyataan, perempuan yang begitu sayang atau laki laki dengan kebiasaan buruknya.
Bab 4
Ritme Merintik
Hari ini aku membuka mata, langit malam penuh haru telah berganti fajar biru, tetes air mata berubah buih embun hinggap manis di antara segarnya daun, namun tangisan Erza masih membekas dalam ingatku. Aku berpikir bagaimana Erza sekarang melewati malam kelam menjadi dirinya ? sedangkan menjadi aku pun tenang masih sulit untuk terhimpun.
"Dengan hadirnya pagi yang lebih segar, semoga hatimu menjadi lebih tegar". Aku kirimkan pada Erza dalam bentuk pesan singkat melalui telepon genggam semoga ia lebih tabah, sebab pagi masih terlalu indah jika memulai hari dengan resah. Pagi pun berlalu menuju siang gemuruh langit mendung runtuh merintikkan hujannya. Aku masih berpikir tentang Erza merintikkan sedih di pipinya.
Tanpa ada balasan pesan yang aku tinggalkan, tanpa ada alasan pula erza ditinggalkan. Siang ini terasa panjang entah hujan atau hening yang membuatnya demikian. Aku membuat secangkir kopi panas meletakkannya di atas meja dekat jendela kamar menikmati tetesan hujan yang kian menderas membasahi seluruh halaman dan teras hingga jejak debu hilang tak membekas. Hampir sejam hujan belum juga mereda, aku memikirkan kisah lama tentang luka yang masih mendada. Tentangku, tentang hati yang pernah aku menangkan dengan kekalahan, tentang kekalahanku yang hanya memenangkan kesedihan.
"Ka?". Suara sayup yang cukup membuyarkan lelapku. "Hmm iya, La". Tanyaku kepada suara sayup itu.
"Bangun dong, Ka!" Suaranya yang semakin lantang. Mataku akhirnya terbuka dari gelapnya malam menatap paras yang penuh cemas memberinya senyum walau tak yakin aku sudah mampu terbangun."Lah kok senyam senyum? Bangun dong, Ka !!!. Raka !!! Bangun !!!". Dengan nada menekan dan melantang namun tetap tak menunjukkan dia seorang yang pemarah. Dia adalah Yuna, seorang perempuan yang aku sebut wanita karena feminimnya. Dengan sisi kewanitaannya yang mendominankan dirinya, sehingga tak aku sebut dia perempuan. Entahlah ini hanya persepsiku, mungkin ini hanyalah soal istilah, sebab di antara wanita dan perempuan, mereka terdefinisikan pada bentuk dan rupa yang sama, namun bagi definisi tertentu, keduanya adalah watak yang berbeda. Nana, nama yang biasa aku memanggilnya. Seseorang yang merupakan teman poskoku saat berKKN di salah satu Desa di Jawa Timur. Tempat yang sangat jauh dari rumah, namun membuatku serasa di rumah dengan orang-orangnya yang ramah. Masa KKN, masa paling terpenting saat kuliah. Tentang mengurus rumah tangga, membangun kerjasama, dan mengenal teman-teman dari jurusan lain, tapi dengan kampus yang sama. Yuna adalah seorang anak Sosiologi, sedangkan aku berjurusan Sastra Indonesia. Tak hanya kami berdua, Dega, Zira, Ben, dan juga Mika yang bernaung di posko tempat aku menetap selama ber KKN.
Bagiku, KKN adalah pembelajaran pengaplikasian poin ketiga dari Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian. Membaur di masyarakat tanpa memandang sosial maupun derajat, bermodal materi organisasi dan ilmu di rana teori, kami mencoba menuangkan pandangan-pandangan pengetahuam selama di bangku perkuliahan.
Kopi yang telah kehilangan panasnya tak tersentuh oleh bibirku, sebab perbincanganku dengan masa lalu masih begitu hangat dalam kehilanganku
Mereka yang memaknai puisi sebagai hal melebih lebihkan adalah mereka yang tidak menghargai setiap perjalanan dan merelakannya terlewatkan begitu saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar